.: SELAMAT DATANG DI BLOG EKONOMI ISLAM SUBSTANTIF -- Blog dengan konten riset ekonomi dan keuangan syariah terdepan. :.

Kamis, 11 Agustus 2016

Mengukur Super Efisiensi Bank Syariah


Efisiensi mengarah pada ukuran baik atau buruknya penggunaan sumber daya dalam mencapai tujuan. Menurut Sumanth (1984) efisiensi merupakan rasio dari output aktual yang dicapai terhadap output standar yang diharapkan.
DEA model dasar menggolongkan unit pengambil keputusan atau Decision Making Unit (DMU) ke dalam 2 kelompok besar yakni unit efisien dan yang tidak efisien. Unit efisien bernilai 1 atau 100%, sedangkan unit yang memiliki nilai di bawah 1 termasuk ke dalam kelompok yang tidak efisien. Namun, kekurangan model DEA dasar adalah kita akan kesulitan menentukan peringkat terbaik dari DMU manakala terdapat beberapa unit DMU yang sama-sama bernilai 1.
Anderson dan Petersen (1993) kemudian memperkenalkan konsep super efisiensi. Konsep dasar dari super efisiensi adalah membiarkan adanya efisiensi DMU yang diamati lebih besar dari 1 atau 100%. Super efisiensi hanya mempengaruhi unit yang dianggap sama efisien dengan batasan yang dihilangkan.
Sementara itu unit yang tidak efisien tidak terpengaruh karena efisiensi lebih kecil daripada 1. Super efisiensi sebenarnya merupakan suatu ukuran kekuatan unit-unit yang efisien yang digunakan untuk meranking unit DMU yang menjadi objek observasi.
Kali ini SMART akan menghitung nilai super efisiensi BUS di Indonesia dengan data 2015. Sebagai variabel input adalah Dana Pihak Ketiga (X1), Biaya Personalia (X2) dan Biaya administrasi-umum. Sementara itu untuk variabel output yaitu Total Pembiayaan (Y1) dan Pendapatan Operasional (X2). Penggunaan DPK dan pembiayaan dalam input-output karena penelitian ini menggunakan pendekatan intermediasi.
Kelompok bank dibagi 2: BUS dengan aset di atas Rp 10 triliun dan BUS dengan aset di bawahnya. Hasilnya diperoleh bahwa di antara bank syariah besar yang ada, nilai tertinggi dimiliki oleh BNI Syariah dengan nilai efisiensi relatif sebesar 81,1%, kemudian diikuti oleh BSM sebesar 74,7%. BMI dan BRI Syariah berada pada posisi ketiga dan keempat dengan nilai efisiensi sebesar 72,7% dan 58,4%.
Untuk kategori bank syariah di bawah aset Rp 10 triliun, 3 Bank Umum Syariah terbaik dari perspektif super efisiensi adalah: pertama Maybank Syariah dengan nilai efisiensi 306,9%, kedua BCA Syariah dengan nilai 270,6% dan Bank Panin Syariah (131,2%) ada pada posisi ketiga. Berturut-turut setelahnya adalah BJBS, Bukopin Syariah, BTPNS, Victoria Syariah dan Bank Mega Syariah.
Pengukuran tingkat efisiensi industri termasuk perbankan, mayoritas dilakukan dengan pendekatan nonparametrik Data Envelopment Analysis. Sayangnya, saat ini analisis masih sangat miskin pengembangan (baca: hanya sedikit sekali tipe analisis). Padahal, DEA masih sangat kaya variasi analisis. Sebut saja: Window Analysis (DEWA), analisis sensitivitas DEA, super efficiency, SBM Model, Network DEA dan sebagainya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar