.: SELAMAT DATANG DI BLOG EKONOMI ISLAM SUBSTANTIF -- Blog dengan konten riset ekonomi dan keuangan syariah terdepan. :.

Jumat, 15 Juli 2016

18 Model DEA untuk Mengukur Efisiensi Bank Syariah


Pengukuran tingkat efisiensi banyak berkutat pada 2 model saja yaitu CCR yang berasumsi Constant Return to Scale dan BCC yang memiliki asumsi Variable Return to Scale. Namun sesungguhnya, selain model CCR (CRS) dan BCC (VRS) tersebut, masih banyak lagi model DEA lain. Tercatat sedikitnya ada 40 model DEA yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat efisiensi suatu DMU.
DEA menawarkan tiga orientasi dalam perhitungan efisiensi relatifnya yaitu (1) Model orientasi input (input-oriented model) yaitu model dimana setiap DMU diharapkan memproduksi sejumlah output tertentu dengan sejumlah input terkecil yang memungkinkan (minimasi input), dengan demikian input merupakan sesuatu yang dapat dikontrol; (2) Model orientasi output (output-oriented model) yaitu model dimana setiap DMU diharapkan memproduksi sejumlah output terbesar yang memungkinkan dengan sejumlah input tertentu (maksimasi output), dengan demikian output merupakan sesuatu yang dapat dikontrol; dan (3) Model orientasi dasar (base-oriented model) yaitu model dimana setiap DMU diharapkan memproduksi dengan kondisi gabungan optimal antara input dan output, dengan demikian input dan output merupakan sesuatu yang dapat dikontrol. (Charnes et. al, 1994).
Kali ini, SMART melakukan reviu terkait pengukuran tingkat efisiensi Bank Umum Syariah dengan mengaplikasikan 18 model DEA. Model yang digunakan adalah adalah: CCR Input-Output, BCC Input-Output, GRS Input-Output, IRS Input-Output, DRS Output, SBM, SBM VRS, SBM GRS, SBM Input-Output, NC Input-Output dan ND Input-Output. Sebagai alat bantu, tools analysis yang digunakan dalam penelitian ini adalah Software Open Source DEA (OSDEA). Software ini relatif jarang dipakai dimana mayoritas peneliti menggunakan software MaxDEA, Banxia, atau DEAP dalam riset efisiensinya.
Variabel output yang digunakan untuk menghitung efisiensi adalah total pembiayaan yang diberikan dan pendapatan operasional tahun 20011-2014, sedangkan variabel input yang digunakan adalah dana pihak ketiga, biaya personalia dan biaya administrasi dan umum tahun 2011-2014. Dari ke-18 model tersebut akan diketahui bank syariah yang menjadi best practice dan akan diketahui original-projected value, radial-slack movement, dan peers (benchmarks) pada masing-masing BUS.
Dari ke-18 model DEA yang dijelaskan di atas, penelitian ini mencoba mengukur tingkat efisiensi Bank Umum Syariah selama periode 2011-2014. Data hanya sampai 2014 mengingat beberapa BUS masih belum mempublikasi resmi laporan keuangan tahun 2015. Setelah dilakukan pengukuran masing-masing, selanjutnya dilakukan rata-rata terhadap nilai efisiensi yang ada dari setiap model. Berikut di bawah ini adalah hasil perhitungan tingkat efisiensi per tahun dari 11 BUS selama periode penelitian.
Hasilnya, BUS yang masuk kategori efisiensi tinggi antara lain: Maybank, Panin, Mega, BMI dan BCA. BUS yang masuk dalam kategori sedang adalah: Bukopin, BNI, BSM, BJB dan BRI. Adapun Victoria tergolong ke dalam BUS dengan kategori efisiensi relatif rendah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar