.: SELAMAT DATANG DI BLOG EKONOMI ISLAM SUBSTANTIF -- Blog dengan konten riset ekonomi dan keuangan syariah terdepan. :.

Jumat, 17 Juni 2016

Sensitivitas Faktor Pemilihan Bank Syariah


Analisa sensitivitas dapat dipakai untuk memprediksi keadaan apabila terjadi perubahan yang cukup besar, misalnya terjadi perubahan bobot prioritas atau urutan prioritas dari kriteria karena adanya perubahan preferensi sehingga muncul usulan pertanyaan bagaimana urutan prioritas alternatif yang baru dan tindakan apa yang perlu dilakukan. Dalam suatu hirarki tiga level, level dua dan hirarki tersebut dapat disebut sebagai variabel eksogen sedangkan level tiganya adalah variabel endogen. Analisa sensitivitas dan hirarki tersebut adalah melihat pengaruh dan perubahan pada variabel eksogen terhadap kondisi variabel endogen.

Hasil yang didapatkan dan terlihat pada gambar, terdapat 3 kriteria yang cukup sensitif dalam pemilihan bank syariah di Indonesia: faktor syariah, faktor aksesibilitas jaringan kantor dan faktor kecanggihan teknologi. Sementara itu 2 faktor lain tidak begitu sensitif merespon perubahan preferensi kriteria.

Misalnya, hasil analisis sensitivitas terhadap faktor syariah dengan melakukan peningkatan bobot nilai faktor syariah sehingga ia menjadi prioritas utama. Untuk setiap peningkatan sebesar 10% faktor syariah, terdapat peningkatan sekitar 1-2% bobot Bank Muamalat Indonesia (BMI) dan sebaliknya terdapat penurun sekitar 1-2% bobot BSM. Pada titik tertentu, prioritas alternatif bank menjadi berubah. BMI menjadi bank syariah yang paling dipilih dibanding BSM. Sementara itu posisi tiga hingga lima sama: BNI Syariah, BRI Syariah dan Mega Syariah.

Untuk sensitivitas faktor aksesibilitas, setiap peningkatan sebesar 10% faktor “access”, terdapat rata-rata peningkatan sekitar 1% bobot BNI Syariah dan sebaliknya terdapat penurun sekitar 1% bobot BMI. Pada titik tertentu, prioritas alternatif bank menjadi berubah. BNI Syariah menempati posisi kedua bank syariah yang paling dipilih menggeser posisi BMI. Sementara itu posisi pertama, BSM dan posisi empat dan lima yakni BRI Syariah dan Mega Syariah, sama.

Faktor ketiga yang dianggap sensitif adalah “technological advance”. Mirip dengan faktor aksesibilitas, setiap peningkatan sebesar 10% faktor kecanggihan teknologi, akan meningkatkan 1% bobot BNI Syariah dan sebaliknya menurunkan sekitar 1% bobot BMI. Pada titik tertentu, prioritas alternatif bank menjadi berubah. BNI Syariah menempati posisi kedua bank syariah yang paling dipilih konsumen menggeser posisi BMI. Sementara itu posisi pertama, posisi empat dan lima sama yakni: BSM, BRI Syariah dan Mega Syariah.  


Apabila dikaitkan dengan periode waktu maka dapat dikatakan bahwa analisa sensitivitas adalah unsur dinamis dari sebuah hirarki. Artinya penilaian yang dilakukan pertama kali dipertahankan untuk suatu jangka waktu tertentu dan adanya perubahan preferensi yang cukup dilakukan dengan analisa sensitivitas untuk melihat efek yang terjadi. Analisa sensitivitas ini juga akan menentukan stabil tidaknya sebuah hirarki. Makin besar deviasi atau perubahan prioritas yang terjadi maka makin tidak stabil hirarki tersebut. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar