.: SELAMAT DATANG DI BLOG EKONOMI ISLAM SUBSTANTIF -- Blog dengan konten riset ekonomi dan keuangan syariah terdepan. :.

Senin, 25 Juli 2011

What is The Future Outlook of Shariah Harmonization

Abstract:
This paper at first looks into the needs for harmonization in this turbulence and uncertain markets and economic condition. Market changes are among the prominent factors that leads to harmonization; and it is also the leading issue that Islamic finance industry will have to deal with in the near future. Then this brief paper dwells with the direction of harmonization efforts in the Islamic finance industry. No doubt that harmonization is not a panacea for problems faced by Islamic finance, rather it is a journey that we must take to propel and advance this endeavour. 

Keywords: Islamic Finance, Shariah Harmonization, IFSB, Islamic Fiqh Academy, AAOIFI
 

Minggu, 24 Juli 2011

Shariah Economic This Year (SETY) SEF UGM 2011

Theme :
“Islamic Microfinance and The Future of Islamic Finance Industry In Southeast Asia”
 

SETY 2011 International Essay Competition consists of two categories (Public and Student). It is an INDIVIDUAL competition. The essay must be original and it has not been participated and published previously in the media (such as magazines, newspapers, journals, etc). All incoming essays belong to the comittee (The comittee have a right to use all incoming essays for non-commercial activity without informed previously to the author's essay). Each participant may submit more than one essay, but the winner will be entitled to only one prize. The prize will be awarded to a contestant  with  highest-scoring essay. 

Topics :
—  The Future and Challenge of Shariah Based Financial Industry Microfinance  in Southeast Asia
—  The role of islamic microfinance in SME (small medium enterprise) development in Southeast Asian countries.
—  The Rationale of Islamic microfinance in improving the welfare and prosperity of South-east Asian countries
—  How Islamic microfinance copes with global trend on free trade in Southeast Asia?

Sabtu, 23 Juli 2011

Transmission Mechanism on Dual Monetary System in Indonesia: Comparison Between Shariah and Conventional Instruments

Abstract

The transmission mechanism of monetary policy has been an area of abundant economic research in many countries. The financial system links monetary policy and the real economy. Thus, events or trends that affect the financial system can also change the monetary transmission mechanism. This study tries to analyze transmission mechanism in Indonesian dual monetary system, using Vector Auto Regression (VAR) and Vector Error Correction Model (VECM) methods.
Results show that the relationship between LNIHK and shariah instruments: financing (LNFINCG), SBIS and PUAS is negative. It means, when the total of shariah financing be increase, it will gives positive contribution for reducing inflation rate in Indonesia, because with this system possibility to make equal growth among monetary and real sectors appears. Therefore, it will be strategic action for monetary authority to grow up shariah banking share in Indonesia, for minimizing ‘bad inflation’ in economy.

JEL Classification: C32, E31, E42, E52
Keywords: Transmission Mechanism, Dual Monetary System, Shariah Instruments, VAR/VECM

Senin, 18 Juli 2011

Reposisi Pemahaman Ekonomi Islam

Carut marut kehidupan perekonomian di Indonesia berdampak pada paradigma pemikiran yang berafilisasi pada pola pikir yang lebih religi. Berbagai macam persoalan yang menumpuk, seperti kesenjangan sosial yang makin tinggi dan beban hutang yang kian tahun malah tambah menjerat, mendambakan hadirnya suatu sistem yang dapat mengakhiri berbagai persoalan tersebut. Hingga kemudian, banyak orang mengharapkan agar sistem ekonomi Islam hadir sebagai salah satu wacana untuk dapat mengakhiri persoalan tersebut. Kondisi semacam ini, disadari atau tidak merupakan bias dari depresiasi penggunaan sistem yang masih mengacu pada aturan main yang ditetapkan oleh manusia. Hingga aplikasi dari sistem tersebut bukan malah menjadikan kondisi perekonomian kian membaik, namun kian hari malah tambah memburuk.

Sabtu, 16 Juli 2011

GIVE YOUR COMMENTS, AND GET THE GREAT BOOK !!

Ikuti Program Spesial yang sangat Menarik dari Kami. Hanya dengan aktif memberikan KOMENTAR, SARAN maupun PERTANYAAN pada artikel atau paper kami (baik postingan baru ataupun yang lama), Anda berkesempatan besar mendapatkan Hadiah menarik berupa Masterpiece buku EKONOMI ISLAM SUBSTANTIF plus TANDA TANGAN dari penulisnya. Hadiah akan dikirimkan langsung kepada pemenang terpilih di setiap AKHIR PERIODE. Untuk periode 1 dengan tenggat 16 JUNI - 15 JULI 2011 telah didapatkan pemenang a/n e-Cakra dari Bekasi. Selamat kepada pemenang!!

Bagi Anda yang belum sempat mencoba ikut, ayo berikan KOMENTAR, SARAN, KRITIK maupun PERTANYAAN Anda di setiap posting yang kami muat! Kami jamin, untuk "Best Comment" akan mendapat hadiah menarik. Periode 2 dimulai tanggal 17 JULI hingga 16 AGUSTUS 2011. So, ayo ikuti dan berikan komentar-komentar terbaik Anda! REAL 100% FREE. Nb: Keputusan pemenang sepenuhnya adalah prerogatif kami dan tidak dapat diganggu gugat :)..

Salam Hangat. Aam S. Rusydiana

Senin, 04 Juli 2011

Call for Papers at University Tehran Iran

Ninth International Conference

The Tawhidi Methodology Applied to Institutional Market Dynamics for Development

Tarbiat Modares University, and Islamic Economic Association of Iran,
jointly with
Postgraduate Program in Islamic Economics and Finance
Trisakti University, Indonesia
at
Tarbiat Modares University
Tehran, Islamic Republic of Iran

February 29-March 1, 2012


Jumat, 01 Juli 2011

Jihad Iqtishadi yang Bersinambungan

Penegasan Kembali tentang Jawaban Islam atas Sistem Ekonomi Konvensional
Salah satu keuntungan dari dihapuskannya sistem riba adalah terjadinya keseimbangan dan pemerataan dalam distribusi kekayaan (kesejahteraan). Ciri yang muncul dari sistem riba bersifat kebalikannya. Keuntungan satu pihak (pemodal) sudah pasti ketika peminjam modal menderita rugi (karena ada jaminan lain yang akan diperoleh sebagai pengganti) atau ketika peminjam modal mendapat untung. Adapun peminjam modal berada dalam ketidakpastian karena uang yang dipinjam ada kemungkinan menghasilkan keuntungan atau sebaliknya justru mengalami kerugian.

Dalam konteks yang lebih luas, misalnya pada perusahaan besar, besarnya keuntungan yang diperoleh tetap tidak menjamin perusahaan itu bebas dari risiko. Kenyataannya, ketika risiko dari sebuah perusahaan besar dianggap kecil karena faktor internal (misalnya, alat produksi) sudah tersedia dan terukur kerjanya, justru pada saat yang sama perusahaan itu menghadapi risiko lain, yaitu risiko dari luar. Jadi, semakin besar suatu perusahaan, semakin besar risiko yang dihadapinya. Dalam sistem ekonomi kapitalis, keseimbangan dalam distribusi kekayaan pun menjadi sangat tidak stabil. Kadang peminjam harus mengalami kerugian yang sangat besar, sedangkan pemberi pinjaman terus mengeruk keuntungan. Di sisi lain, kadang pula peminjam mendapat keuntungan yang sangat besar, sedangkan pemberi pinjaman hanya mendapat bagian yang sangat kecil dibandingkan dengan keuntungan tadi. Dari situ muncul ketidakadilan dalam menanggung risiko kerugian atau dalam membagi hasil keuntungan.