.: SELAMAT DATANG DI BLOG EKONOMI ISLAM SUBSTANTIF -- Blog dengan konten riset ekonomi dan keuangan syariah terdepan. :.

Sabtu, 28 Mei 2011

Ekonomi Islam Substantif

Ada sesuatu yang menarik tatkala kita menyimak diskusi dan gumulan pemikiran para ekonom negeri ini. Iman Sugema yang representasi oposan pemerintah dalam hal kebijakan ekonomi yang diambil, tidak jarang menyuarakan pendapat yang sesungguhnya ‘bertemu muka’ dengan prinsip dan nilai-nilai ekonomi Islam. Misalnya, kerap saat otoritas moneter membuat kebijakan menaikkan suku bunga SBI, ia malah mengkritik dan cenderung lebih setuju pemikiran bunga nol persen. Demikian pula tokoh Faisal Basri. Saat berkomentar dan melakukan analisis ekonomi, ia tidak jarang melontarkan pendapat yang sejatinya adalah ruh ekonomi Islam. Umpamanya saat ia mencela pasar uang yang terlalu spekulatif sehingga kemudian menyebabkan kekacauan ekonomi, bahkan krisis. Padahal bunga nol persen dan larangan spekulasi mata uang adalah termasuk ajaran ekonomi Islam yang pertama.

Maka, hipotesis awalnya ialah: peta ‘isme’ ekonomi saat ini sedang berkontraksi antara tesis lama dengan antitesisnya, kemudian menyintesis dan bergerak menuju sebuah tesis baru -meminjam logika dialektika Hegelian. Pertanyaan bijaknya adalah, apakah tesis baru itu? Kemungkinan keduanya adalah bisa jadi terdapat irisan –baik sedikit atau banyak- antara paham/ideologi ekonomi yang satu dengan yang lain. Sebutlah misalnya kapitalisme dengan ekonomi Islam bersepaham dan beririsan sebesar 10 persen dalam hal kebebasan pasar dan tidak bolehnya intervensi yang menyebabkan market failure. Atau ekonomi Islam yang beriris dengan sosialisme dalam segi wajibnya pemerintah mengayom seluruh penduduk, terutama rakyat yang berkekurangan (proletariat) dan perlunya dana sosial untuk memback up kemiskinan. Dari sisi ini, nampaknya perlu penelaahan lebih mendalam.

Sabtu, 21 Mei 2011

Suku Bunga, Inflasi dan Krisis Keuangan Dunia


Pengalaman krisis demi krisis yang menimpa ekonomi dunia dalam satu abad terakhir ini seharusnya telah menyadarkan kepada kita bahwa masalah inflasi telah berkembang menjadi persoalan yang semakin kompleks. Diawali dengan terjadinya malapetaka yang besar (the great depressions) pada tahun 1930-an, kemudian disusul dengan terjadinya krisis Amerika Latin pada dekade 1980-an, akhirnya muncul kembali pada krisis moneter di Asia pada pertengahan tahun 1997-an, adalah pengalaman ekonomi dunia dengan inflasi tingginya (hyper inflation) yang sangat merusakkan sendi-sendi ekonomi (Triono, 2006).

Perpaduan kebijakan yang digunakan untuk mengatasi krisis malah menimbulkan krisis bertambah parah. Inilah sebuah dilema yang sampai saat ini belum terpecahkan sebagaimana secara jelas dikatakan oleh Samuelson dan Nordhaus. Bahkan mereka mengatakan kebijakan atau solusi yang ditawarkan oleh para ahli dalam memecahkan permasalahan inflasi dan pengangguran secara bersamaan justru menyebabkan efek samping yang lebih buruk dari penyakitnya itu sendiri. Ini terjadi dikarenakan “obat” yang diberikan hanya sebatas menghilangkan penyakit bagian permukaan saja, sementara penyakit bagian dalamnya masih belum disembuhkan.

Penyakit bagian dalam yang belum tersentuh oleh perpaduan kebijakan di atas adalah terkait dengan hakikat mata uang itu sendiri dan sistem yang melingkupinya serta penyalahgunaan dari fungsi dasar uang sebagai alat tukar yang bertambah menjadi tidak hanya sebatas sebagai alat tukar, melainkan juga menjadi sebuah barang (komoditas) yang turut diperdagangkan dengan imbalan bunga (interest). Yang lainnya adalah masalah kewajiban cadangan bank komersial (fractional reserve banking system).

Sabtu, 14 Mei 2011

Bank nDeso


Dunia tersentak. Kaget sekaligus takjub. Amatlah langka –bahkan nyaris tak ada, seorang yang berlatar belakang ekonomi meraih penghargaan nobel di bidang perdamaian. Lazimnya, penerima penghargaan jenis ini adalah ia yang aktif dalam hal rekonsiliasi antarnegara atau yang sejenisnya. Dan bukan lulusan strata tiga ekonomi yang tiap harinya dekat dan bergumul dengan kebanyakan orang miskin. Barangkali menjadi suatu hal wajar andaikata sang doktor meraih penghargaan nobel yang sama di bidang ekonomi. Namun tidak. Ia justru mendapat nobel dalam bidang lain: Perdamaian. Ada apa gerangan? Mengapa dan siapakah sang doktor yang kini menjadi bahan perbincangan hangat seantero dunia itu?

Ialah Profesor Muhamad Yunus, doktor lulusan negeri Paman Sam yang menjadi rising star itu. Ia berkebangsaan Bangladesh. Bangladesh adalah satu negara di benua Asia dengan jumlah penduduk terbanyak ke-8 di dunia. Atau sekitar 132 juta jiwa. Bangladesh baru mengecap kemerdekaan dari Pakistan tahun 1971. Tak kurang setengah lebih dari jumlah penduduknya berada pada garis kemiskinan. Dengan pendapatan perkapita penduduk amat rendah, yakni sekitar US$ 380, Bangladesh menjadi sebuah negara yang amat miskin, terpuruk, dan terbelakang dalam peta ekonomi negara-negara dunia. Bayangkan, sekitar 1974 atau tiga tahun setelah terbebas dari belenggu imperialis, Bangladesh mengalami famine (baca: kelaparan mahadahsyat) yang menelan bukan hanya puluhan atau ratusan. Tapi jutaan miskin. Maka tidaklah heran, jika di dunia ini ada seorang pakar kemiskinan yang belum berkunjung dan menganalisis negara kecil ini, maka belumlah sempurna kepakarannya.

Sabtu, 07 Mei 2011

Riset Ekonomi Islam: Peluang dan Tantangan

Hari ini, dunia sedang dikejutkan dengan perkembangan yang mencengangkan akan sebuah disiplin ilmu –yang sesungguhnya bukanlah barang baru- yang dipastikan paling banyak menyentuh problem masyarakat dunia. Saat ini ekonomi Islam sedang mengalami euforia, baik di negara berkembang, atau di negara maju sekalipun. Industri keuangan serta bentuk lembaga ekonomi Islam lain tumbuh di seantero jagat, mulai dari Timur Tengah, kawasan Asia hingga negara-negara Barat seperti Inggris. Di Indonesia, ekonomi Islam sebagian besar mengejawantah menjadi ‘industri keuangan syariah’, utamanya Bank Syariah yang juga menjadi entitas yang paling laku ‘dijual’ pasca krisis moneter 1997.

Jika kita menggunakan kacamata kritis, maka di sana ada hal yang patut kita perhatikan. Perkembangan ekonomi Islam di tataran praktek, tidak diimbangi dengan pengembangan ekonomi Islam pada sisi teori. Padahal, sebagai sebuah ilmu, semestinya ekonomi Islam juga bukan hanya perlu ditransformasikan ke dalam tataran praktis-implementatif tetapi harus pula diiringi dengan perkembangan di sisi akademis-teoretis. Keduanya mesti berjalan beriringan. Tidak kemudian satu berlari dan yang lainnya berjalan di tempat. Dan berpijak dari argumentasi inilah, riset-riset pengembangan keilmuan ekonomi Islam menjadi amat penting.