.: SELAMAT DATANG DI BLOG EKONOMI ISLAM SUBSTANTIF -- Blog dengan konten riset ekonomi dan keuangan syariah terdepan. :.

Jumat, 30 Desember 2011

Kerjasama Training ANP

PENDAHULUAN

Tantangan terbesar dalam membuat suatu penelitian adalah menentukan metodologi yang tepat untuk digunakan dalam penelitian. Seringkali para mahasiswa yang akan melakukan penelitian, terutama mereka yang berasal dari bidang ilmu bukan statistik, merasa memiliki kesulitan untuk memahami statistik/ekonometrik dalam waktu singkat, mengingat bidang ilmu statistik/ekonometrik bukanlah bidang ilmu yang mereka tekuni. Hal ini tidak jarang berdampak pada terjadinya ketidaksinkronisasi antara tujuan penelitian dan metodologi penelitian itu sendiri. Ibarat memotong kue dengan menggunakan kapak, untuk mendapatkan hasil penelitian menggunakan alat analisis yang tidak sesuai dengan tujuan penelitian.

Pada umumnya, mahasiswa yang bukan mengambil konsentrasi statistik maupun ekonometrik akan mengambil langkah aman penelitian yakni dengan menggunakan studi kualitatif deskriptif. Model penelitian ini mengedepankan analisis melalui tinjauan pustaka dan studi literatur. Padahal ada pendekatan lain dimana metode kualitatif deskriptif dapat dihitung secara kuantitatif sehingga hasil yang digambarkan akan lebih akurat.   

ANP (Analytic Network Process) merupakan salah satu metode pengambilan keputusan yang sangat powerfull untuk diterapkan baik dalam ilmu manajamen, ekonomi, pendidikan, teknologi informasi, dan bidang-bidang ilmu lainnya. Metodologi yang dikembangkan oleh Saaty ini memilih pendekatan kualitatif dan kuantitatif serta menggunakan perhitungan supermatriks sehingga hasil penelitian akan lebih akurat daripada metodologi sejenis lainnya. ANP adalah salah satu metodologi yang paling umum dan mudah diaplikasikan untuk studi kualitatif yang beragam, seperti pengambilan keputusan, forecasting, alokasi sumber daya, dan lain sebagainya. Penggunaan metode ini telah terbukti manfaatnya baik bagi banyak perusahaan terutama instansi-instansi perbankan termasuk Bank Indonesia (BI).

Oleh sebab itulah SMART CONSULTING menawarkan pelatihan selama sehari terkait dengan tema metodologi ANP untuk memenuhi kebutuhan para mahasiswa sarjana dan pasca sarjana yang hendak menyusun penelitian ilmiah dengan menggunakan metodologi ANP.

Selasa, 13 Desember 2011

ANALYTIC NETWORK PROCESS: METODOLOGI POWERFULL UNTUK PROBLEM MANAJEMEN


Analytic Network Process atau ANP adalah teori umum pengukuran relatif yang digunakan untuk menurunkan rasio prioritas komposit dari skala rasio individu yang mencerminkan pengukuran relatif dari pengaruh elemen-elemen yang saling berinteraksi berkenaan dengan kriteria kontrol (Saaty, 2003). ANP merupakan teori matematika yang memungkinkan seseorang untuk memperlakukan dependence dan feedback secara sistematis yang dapat menangkap dan mengkombinasi faktorfaktor tangible dan intangible (Azis, 2003).
ANP merupakan pendekatan baru dalam proses pengambilan keputusan yang memberikan kerangka kerja umum dalam memperlakukan keputusan-keputusan tanpa membuat asumsi-asumsi tentang independensi elemen-elemen pada level yang lebih tinggi dari elemenelemen pada level yang lebih rendah dan tentang independensi elemen-elemen dalam suatu level. Malahan ANP menggunakan jaringan tanpa harus menetapkan level seperti pada hierarki yang digunakan dalam Analytic Hierarchy Process (AHP), yang merupakan titik awal ANP. Konsep utama dalam ANP adalah influence ‘pengaruh’, sementara konsep utama dalam AHP adalah preferrence ‘preferensi’. AHP dengan asumsi-asumsi dependensinya tentang cluster dan elemen merupakan kasus khusus dari ANP.

Selasa, 22 November 2011

GULF RESEARCH MEETING ON ISLAMIC FINANCE University of Cambridge, July 2012

Introduction

Islamic Banking and Finance (IBF) has enjoyed unprecedented growth in recent years in the world, while the GCC remains a main hub of IBF activities. This is mainly due to the large wealth and capital accumulated in the region, which has provided the required liquidity for the IBF industry to enjoy double-digit growth in recent years, at least until the impact of the global financial crisis hit the region. Indeed, during the financial crisis, a slowdown in the asset growth and operations in the IBF industry has been observed as compared to previous period, including sukuk defaults. However, after the initial impact of the global financial crisis, the IBF industry in the GCC has managed to pick up again in recent months without major damage. As part of such positive developments, the sukuk market has overcome the contraction and is now enjoying another phase of expansion.


Minggu, 20 November 2011

MENGAPA BANK SYARIAH RELATIF LEBIH TAHAN KRISIS?: Aplikasi Logistic Regression untuk Sistem Deteksi Dini Krisis Finansial di Indonesia


Abstraksi

The financial crisis repeatedly struck various countries in the world by turns both developing and developed countries. In fact, during the period of a modern economy such as now, its intensity becomes more frequent and acute. Therefore, early detection system crisis became an important presence in order to avoid the negative impact of the crisis more severe.
This study tried to examine indicators of anything that can be used as reference in predicting how likely will the crisis in a country like Indonesia are dual banking by using binary logistic regression method.
The results suggest an important conclusion is interesting. First, Islamic banks tend to have problems with liquidity (with evidence of significant FAR) while the conventional banks tend to have problems with solvency (CAR significant). From this it can be concluded that the new Islamic bank will be a crisis if the real sector disturbed. While conventional banks will continue to flare up if there is disruption of the financial crisis. Second, a significant M2RES related variables, both Islamic and conventional models, then this could be a result of the enactment of fiat money and fractional reserve banking system (FRBS). Though both of these is a contributor to excess money supply is large enough. So it becomes a natural thing to understand if the two models-both Islamic and conventional, have similar conditions. As a consequence, the Islamic banking entity actually not really going to be free from the adverse effects of financial crisis.
The third conclusion is no less important is to depart from the fact that the interest rate (INTR) found significant value in the conventional model, but not if he was on the model of sharia, then it can be concluded that the policy rate as BI-rate is indeed very effective instrument to control and influence Other monetary following behaviors are also conventional banks. But on the other hand, it also indicates that the conventional banking system is quite vulnerable to the volatility of monetary and financial crisis. Thus, a rational reason for the monetary authority in this Bank Indonesia to give more support to the sustainability of Islamic banking and finance in Indonesia with the aim of achieving a stable monetary conditions and optimal.

Kata Kunci: Early Warning System, Krisis Perbankan, Sistem Moneter Ganda, Regresi Logistik

Rabu, 19 Oktober 2011

Jurnal & Prosiding Ekonomi Syariah


    Ketersediaan Literatur Ekonomi Syariah dalam bentuk Jurnal yang berkualitas, masih terhitung langka. Untuk membantu siapa pun yang membutuhkannya, kami Blog Ekonomi Islam Substantif menyediakan Jurnal dan Prosiding Ekonomi Syariah dengan konten tulisan berkualitas dengan tema up to date. Berikut ini adalah beberapa Jurnal tersebut.

  1.   ISEFID REVIEW - 2004 (1.Landscape for the Future Islamic Economics, 2.Paradigma Ekonomi Konvensional dalam Sosialisasi Ekonomi Islam, 3.Prospek dan Peranan Perbankan Syariah dalam Pemulihan Ekonomi, 4.Current Valuation Accounting Method: An Islamic Perspective, 5.The Investment Environment in the Arab Region, 6.Book Review: Interest-Free Commercial Banking)
2.   ISLAMIC FINANCE: AN OLD SKELETON IN A MODERN DRESS - 2008 (1.A Critical Appraisal on the Challenges of Realizing Maqasid Shariah in Islamic Banking and Finance, 2.Practice and Prospect of Islamic Real Estate Investment Trusts (I-REITS) in Malaysian Islamic Capital Market, 3.Banking for The Poor: The Role of Islamic Banking in Microfinance Initiatives, 4.Why Do Malaysian Customers Patronise Islamic Banks?, 5.The Ideal of Islamic Banking: A Survey of Stakeholders Perceptions, 6.Understanding the Objectives of Islamic Banking: A Survey of Stakeholders Perspectives, 7.Maqasid Shariah, Maslahah and Corporate Social Responsibility, 8.Customers Perceptions of Islamic Hire-Purchase Facility in Malaysia: An Empirical Analysis, 9.Fiqh Issues in Short Selling as Implemented in the Islamic Capital Market in Malaysia, 10.Commodity Murabahah Programme (CMP): An Innovative Approach to Liquidity Management)

Minggu, 09 Oktober 2011

JURNAL LA RIBA

JURNAL LA RIBA, Vol II No. 2, Desember 2008

Title: Mencandera Industri Perbankan Syariah Indonesia: Tinjauan Kritis Pasca UU 21 Tahun 2008.

Writer: Aam S. Rusydiana

Abstract
After UU 21 exist, shariah banking industries will predicted find the momentum. Shariah bank will make improvement. The content of rules are possible to push the growth of shariah banking in Indonesia. But in the fact, there are some important thing related to instrument and shariah banking product also that less ideal in this banking industries. In this paper, we try to find and predict deeper about condition of shariah banking in Indonesia after UU 21, we also put lot of critical that will be send them. The result show that after the rules had exist, in short term we can not see the positive effect, significantly. In other case, we find a lot of thing that not come from genuine shariah banking, that in the future will have negative impact in the long term, such as: SBI Shariah instrument, shariah credit card, the domination of non PLS and other thing else.
Keywords: Perbankan Syariah, UU 21 Tahun 2008


Selasa, 20 September 2011

EKONOMI PEMBANGUNAN PERSPEKTIF EKONOMI ISLAM

  
Abstraksi

Ekonomi pembangunan adalah cabang ilmu ekonomi yang sejatinya hadir ditujukan khusus untuk mengatasi masalah-masalah yang dihadapi oleh negara-negara miskin (baca: negara berkembang). Tujuan utamanya adalah bagaimana kemiskinan, pengangguran, kesenjangan ekonomi dan sosial antarindividu bisa teratasi sehingga kesejahteraan umat manusia dapat terwujudkan.
Tulisan ini hendak melihat konsep dan teori ekonomi pembangunan berdasarkan sudut pandang ekonomi Islam dengan pendekatan kualitatif. Beberapa kesimpulan penting yang didapat dalam tulisan ini adalah bahwa ekonomi pembangunan perspektif Islam memiliki karakteristik: growth with equity, bersifat komprehensif mengandung unsur spiritual, moral, dan material, serta aktivitasnya cenderung multidimensional sehingga semua usaha harus diserahkan pada keseimbangan berbagai faktor dan tidak menimbulkan ketimpangan.
Selain itu,  pembangunan ekonomi menurut Islam harus memprioritaskan beberapa tujuan penting: pertumbuhan diiringi dengan tenaga kerja penuh, stabilitas ekonomi, keadilan distributif dan kepedulian terhadap alam.

Keywords: Economic Development, Islamic Economics, Growth


Rabu, 03 Agustus 2011

Ramadhan, Momentum Kebangkitan Ekonomi Islam

Selama ini kerap timbul kesan bagi sebagian umat Islam bahwa bulan Ramadhan adalah bulan istirahat dan bulan berleha-leha menunggu kumandang adzan maghrib. Pemahaman seperti ini timbul dari salah baca terhadap makna Ramadhan yang sebenarnya. Secara etimologi, Ramadhan berasal dari akar kata "ramadl" yang berarti "membakar”. Artinya, Ramadhan adalah momentum umat Islam untuk membakar dosa lebih intensif dibandingkan bulan lain, sehingga usaha dan semangat beribadah pun mesti lebih masif dilakukan. Konon, para sahabat mempersiapkan penyambutan Ramadhan selama enam bulan. Enam bulan setelahnya, mereka khusyuk meminta kepada Allah swt. agar ibadah shaum-nya diterima.


Dalam lembaran sejarah generasi terdahulu, jihad sebagai jalan meraih kejayaan Islam kerap digelorakan justru pada bulan Ramadhan. Penaklukan, kemenangan dan kejayaan Islam seringkali dijumput dan diraih pada bulan ini.


Senin, 25 Juli 2011

What is The Future Outlook of Shariah Harmonization

Abstract:
This paper at first looks into the needs for harmonization in this turbulence and uncertain markets and economic condition. Market changes are among the prominent factors that leads to harmonization; and it is also the leading issue that Islamic finance industry will have to deal with in the near future. Then this brief paper dwells with the direction of harmonization efforts in the Islamic finance industry. No doubt that harmonization is not a panacea for problems faced by Islamic finance, rather it is a journey that we must take to propel and advance this endeavour. 

Keywords: Islamic Finance, Shariah Harmonization, IFSB, Islamic Fiqh Academy, AAOIFI
 

Minggu, 24 Juli 2011

Shariah Economic This Year (SETY) SEF UGM 2011

Theme :
“Islamic Microfinance and The Future of Islamic Finance Industry In Southeast Asia”
 

SETY 2011 International Essay Competition consists of two categories (Public and Student). It is an INDIVIDUAL competition. The essay must be original and it has not been participated and published previously in the media (such as magazines, newspapers, journals, etc). All incoming essays belong to the comittee (The comittee have a right to use all incoming essays for non-commercial activity without informed previously to the author's essay). Each participant may submit more than one essay, but the winner will be entitled to only one prize. The prize will be awarded to a contestant  with  highest-scoring essay. 

Topics :
—  The Future and Challenge of Shariah Based Financial Industry Microfinance  in Southeast Asia
—  The role of islamic microfinance in SME (small medium enterprise) development in Southeast Asian countries.
—  The Rationale of Islamic microfinance in improving the welfare and prosperity of South-east Asian countries
—  How Islamic microfinance copes with global trend on free trade in Southeast Asia?

Sabtu, 23 Juli 2011

Transmission Mechanism on Dual Monetary System in Indonesia: Comparison Between Shariah and Conventional Instruments

Abstract

The transmission mechanism of monetary policy has been an area of abundant economic research in many countries. The financial system links monetary policy and the real economy. Thus, events or trends that affect the financial system can also change the monetary transmission mechanism. This study tries to analyze transmission mechanism in Indonesian dual monetary system, using Vector Auto Regression (VAR) and Vector Error Correction Model (VECM) methods.
Results show that the relationship between LNIHK and shariah instruments: financing (LNFINCG), SBIS and PUAS is negative. It means, when the total of shariah financing be increase, it will gives positive contribution for reducing inflation rate in Indonesia, because with this system possibility to make equal growth among monetary and real sectors appears. Therefore, it will be strategic action for monetary authority to grow up shariah banking share in Indonesia, for minimizing ‘bad inflation’ in economy.

JEL Classification: C32, E31, E42, E52
Keywords: Transmission Mechanism, Dual Monetary System, Shariah Instruments, VAR/VECM

Senin, 18 Juli 2011

Reposisi Pemahaman Ekonomi Islam

Carut marut kehidupan perekonomian di Indonesia berdampak pada paradigma pemikiran yang berafilisasi pada pola pikir yang lebih religi. Berbagai macam persoalan yang menumpuk, seperti kesenjangan sosial yang makin tinggi dan beban hutang yang kian tahun malah tambah menjerat, mendambakan hadirnya suatu sistem yang dapat mengakhiri berbagai persoalan tersebut. Hingga kemudian, banyak orang mengharapkan agar sistem ekonomi Islam hadir sebagai salah satu wacana untuk dapat mengakhiri persoalan tersebut. Kondisi semacam ini, disadari atau tidak merupakan bias dari depresiasi penggunaan sistem yang masih mengacu pada aturan main yang ditetapkan oleh manusia. Hingga aplikasi dari sistem tersebut bukan malah menjadikan kondisi perekonomian kian membaik, namun kian hari malah tambah memburuk.

Sabtu, 16 Juli 2011

GIVE YOUR COMMENTS, AND GET THE GREAT BOOK !!

Ikuti Program Spesial yang sangat Menarik dari Kami. Hanya dengan aktif memberikan KOMENTAR, SARAN maupun PERTANYAAN pada artikel atau paper kami (baik postingan baru ataupun yang lama), Anda berkesempatan besar mendapatkan Hadiah menarik berupa Masterpiece buku EKONOMI ISLAM SUBSTANTIF plus TANDA TANGAN dari penulisnya. Hadiah akan dikirimkan langsung kepada pemenang terpilih di setiap AKHIR PERIODE. Untuk periode 1 dengan tenggat 16 JUNI - 15 JULI 2011 telah didapatkan pemenang a/n e-Cakra dari Bekasi. Selamat kepada pemenang!!

Bagi Anda yang belum sempat mencoba ikut, ayo berikan KOMENTAR, SARAN, KRITIK maupun PERTANYAAN Anda di setiap posting yang kami muat! Kami jamin, untuk "Best Comment" akan mendapat hadiah menarik. Periode 2 dimulai tanggal 17 JULI hingga 16 AGUSTUS 2011. So, ayo ikuti dan berikan komentar-komentar terbaik Anda! REAL 100% FREE. Nb: Keputusan pemenang sepenuhnya adalah prerogatif kami dan tidak dapat diganggu gugat :)..

Salam Hangat. Aam S. Rusydiana

Senin, 04 Juli 2011

Call for Papers at University Tehran Iran

Ninth International Conference

The Tawhidi Methodology Applied to Institutional Market Dynamics for Development

Tarbiat Modares University, and Islamic Economic Association of Iran,
jointly with
Postgraduate Program in Islamic Economics and Finance
Trisakti University, Indonesia
at
Tarbiat Modares University
Tehran, Islamic Republic of Iran

February 29-March 1, 2012


Jumat, 01 Juli 2011

Jihad Iqtishadi yang Bersinambungan

Penegasan Kembali tentang Jawaban Islam atas Sistem Ekonomi Konvensional
Salah satu keuntungan dari dihapuskannya sistem riba adalah terjadinya keseimbangan dan pemerataan dalam distribusi kekayaan (kesejahteraan). Ciri yang muncul dari sistem riba bersifat kebalikannya. Keuntungan satu pihak (pemodal) sudah pasti ketika peminjam modal menderita rugi (karena ada jaminan lain yang akan diperoleh sebagai pengganti) atau ketika peminjam modal mendapat untung. Adapun peminjam modal berada dalam ketidakpastian karena uang yang dipinjam ada kemungkinan menghasilkan keuntungan atau sebaliknya justru mengalami kerugian.

Dalam konteks yang lebih luas, misalnya pada perusahaan besar, besarnya keuntungan yang diperoleh tetap tidak menjamin perusahaan itu bebas dari risiko. Kenyataannya, ketika risiko dari sebuah perusahaan besar dianggap kecil karena faktor internal (misalnya, alat produksi) sudah tersedia dan terukur kerjanya, justru pada saat yang sama perusahaan itu menghadapi risiko lain, yaitu risiko dari luar. Jadi, semakin besar suatu perusahaan, semakin besar risiko yang dihadapinya. Dalam sistem ekonomi kapitalis, keseimbangan dalam distribusi kekayaan pun menjadi sangat tidak stabil. Kadang peminjam harus mengalami kerugian yang sangat besar, sedangkan pemberi pinjaman terus mengeruk keuntungan. Di sisi lain, kadang pula peminjam mendapat keuntungan yang sangat besar, sedangkan pemberi pinjaman hanya mendapat bagian yang sangat kecil dibandingkan dengan keuntungan tadi. Dari situ muncul ketidakadilan dalam menanggung risiko kerugian atau dalam membagi hasil keuntungan.

Kamis, 30 Juni 2011

Free Trip to Sudan - Call for Papers

CALL FOR PAPERS - Enhancing Financial Services for Regional Micro Enterprises - Sudan 



2nd International Conference on Inclusive Islamic Financial Sector Development
ENHANCING FINANCIAL SERVICES FOR Regional MICRO-ENTERPRISES

ORGANIZERS: Sudan Academy for Banking and Financial Sciences –SABFS-(Khartoum) , Sudan, Islamic Research and Training Institute, Islamic Development Bank, Jeddah 
DATES: October 09-11, 2011
VENUE: Sudan Academy for Banking and Financial Sciences, Sudan, 
DEADLINES: Submission of Proposals July,15, 2011, Submission of Papers August 15, 2011, Final Decision on Papers September 15, 2011.

Minggu, 26 Juni 2011

Call for Papers FRPS 2011

Masyarakat Ekonomi Syariah (MES), Bank Indonesia (BI) dan Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI) kembali bertemu untuk menyepakati penyelenggaraan Forum Riset Perbankan Syariah (FRPS) pada tahun 2011. Telah disepakati pada tahun ini bahwa forum bertemunya para cendekia dari akademisi dan praktisi perbankan syariah di Indonesia ini akan diselenggarakan 2 kali. Salah satu kota yang telah ditetapkan sebagai tuan rumah adalah Medan, Sumatera Utara. Seperti yang telah diketahui sebelumnya, FRPS adalah forum ilmiah bagi para akademisi, praktisi dan regulator untuk saling menguatkan peran masing-masing pihak melalui peningkatan kualitas hasil penelitian yang berguna bagi pengembangan perbankan syariah.

Untuk itu, kepada civitas akademika, praktisi, dan masyarakat umum mari menyiapkan hasil penelitiannya untuk diikutsertakan dalam Call for Paper. Paper terbaik akan diberikan kesempatan untuk mempresentasikan hasil penelitiannya di Simposium Nasional. Ketentuan penulisan, persyaratan peserta dan kriteria penilaian dapat dilihat pada bagian berikut di bawah ini. Oleh karena itu, pastikan rekan-rekan menjadi orang yang berkontribusi bagi pengembangan ekonomi syariah di Indonesia khususnya dan dunia pada umumnya.

Selasa, 21 Juni 2011

Mengembangkan Ekonomi Islam Teoritis

Memperbincangkan ekonomi memang selalu saja menjadi hal yang menarik. Apalagi tema ekonomi Islam yang saat ini digembar-gembor menjadi salah satu alternatif sistem ekonomi pengganti mazhab ekonomi kapitalis yang sedang sakit, bahkan sekarat. Sampai pusat Vatikan pun konon menyuruh umatnya untuk mempelajari sistem ekonomi dan keuangan Islam. Lantas banyak muncul tulisan yang berujung tesis: There’s something wrong with capitalism. Kita perlu lebih memakai moral dan etika dalam berekonomi.

Di dalam pembahasan masalah ekonomi –pun juga ekonomi Islam, kita hampir tak akan lepas dari penjelasan bagian berikut: pertama, perilaku ekonomi (economic behavior) sebagai subjek yang vital dalam ekonomi secara keseluruhan. Disana ada manusia sebagai penggerak dan pelaku utama ekonomi. Economic behavior kemudian menjadi entitas yang dapat membuat ekonomi bernilai positif atau negatif. Menjadi positif ketika ia mampu menjaga keberlangsungan alam dan kemaslahatan seluruh makhluk bumi. Namun sebaliknya, menjadi negatif tatkala ketamakan, salah urus, keserakahan dan moral buruk menjadi punggawa yang membawa ke ketidakseimbangan ekosistem. Yang kedua dari pembahasan masalah ekonomi adalah perihal kealaman. Alam menjadi hal setelah perilaku ekonomi yang juga penting. Manusia kemudian Allah perintahkan sebagai khalifah untuk mengurusnya. Sehingga sinergi ini kemudian menciptakan ekuilibria (baca: keseimbangan yang banyak) dalam satu kesatuan semesta.

Berbicara lebih dalam tentang ekonomi Islam, ia dapat dilihat dari dua perspektif. Pertama bahwa ekonomi Islam dapat dieja sebagai ‘sistem nilai’. Di sini sebagian besar pembahasan berhubungan dengan hukum ekonomi. Ia mewujud sebagai “fiqh muamalah maaliyyah” yang sifatnya dinamis dan senantiasa menyesuaikan dengan zaman. Sederhananya: domain ekonomi Islam ditinjau dari pandangan syariat dimana para ulama sebagai pemilik otoritas.


Sabtu, 11 Juni 2011

Arus Kiri-Kanan Ekonomi Syariah

Sejak dikonsepkan oleh Nabi saw 1400 tahun yang lalu, ekonomi Islam terus mengalami perkembangan yang dinamis baik sebagai mazhab ekonomi (Baqir Shadr) maupun ilmu ekonomi (Monzer Kahf), mengiringi realitas sosial dan politik yang mempengaruhinya. Pasca runtuhnya kekhalifahan Islam 1924, komunitas dan entitas ekonomi Islam turut mengalami degradasi juga revivalisasi. Jika sebelumnya istilah ekonomi Islam tak pernah dikenal karena sudah inheren dalam setiap aktivitas ekonomi masyarakat muslim, maka ketika Barat mengambil estafet kepemimpinan politik dan ekonomi, istilahisasi menjadi sesuatu yang tak dapat dihindarkan sebagai salah satu simbolisasi sebuah perlawanan yang tak pernah berhenti.

Di era ekonomi kontemporer, dimana sektor perbankan menjadi sesuatu yang tak terhindarkan (taken for granted), ekonomi Islam pun harus bermain pada arena yang sama, yang pada dasarnya tidak menjadi masalah ketika aturan main (rule of the game) masih bersandarkan kepada keadilan tanpa kedzaliman (2:276), keridhaan tanpa pemaksaan (4:29), amanat tanpa khianat (4:58).

Oleh karena itu, pemaparan empat aksi dan reaksi--penulis menyebutnya arus-- terhadap euphoria Islamisasi ekonomi baik dalam ranah teori maupun aplikatif menggunakan pendekatan penilaian terhadap perbankan syariah yang menjadi trigger dalam kebangkitan ekonomi langit yang sedang dibumikan.

Rabu, 08 Juni 2011

Islamic Microfinance Initiatives to Enhance SMEs in Indonesia: An Overview


Abstract

This paper highlights the policies and institutional setting of SME development in Indonesia, followed by a discussion on the players in Islamic microfinance. Emphasis has been given to the potential role of BMTs (Baitul Mal wa Tamwil or Islamic cooperatives) as a strategic community-based micro lending initiative. The importance of Islamic microfinance initiatives as part of national program for the development of SMEs in Indonesia is also discussed. This paper concludes by identifying the potential linkages between players in Islamic microfinance and highlights some critical points in their activities.
Keywords: Islamic Microfinance, Baitul Mal wa Tamwil

Jumat, 03 Juni 2011

Resensi Buku "Ekonomi Islam Substantif"

Dari tulisan-tulisannya, buku ini bersifat kritis dan progresif, dua karakter yang wajib dimiliki setiap akademisi. Kritis dalam menyikapi setiap fenomena nyata sambil memberikan input konstruktif. Progesif yang berarti sarat akan visi perubahan dan kemajuan atas fenomena yang dikritisi. Terlebih, status mahasiswa/akademisi yang bebas kepentingan (interest) yang kadang menghalangi seseorang berpendapat lebih adil. Membaca buku ini, kita akan melihat bahwa dua karakteristik tersebut menjadi ruh dalam tiap tulisan khas mahasiswa: mengalir bebas tanpa beban.

Menjadi istimewa, buku setebal 134 halaman ini ditulis oleh “mahasiswa-mahasiswa ekonomi Islam”, sebuah status yang masih “langka” di belantara kampus dengan berbagai subjek dan disiplin ilmu. Sehingga, buku ini menjadi ungkapan pemikiran orisinil mahasiswa dalam ranah keilmuan ekonomi Islam.

Secara garis besar, karakteristik artikel-artikel dalam buku ini terbagi menjadi tiga bagian. Pertama, bersifat konseptual ekonomi Islam itu sendiri. Kedua, bersifat kritik terhadap kapitalisme yang sedang sakit dan konsep ekonomi Islam sebagai alternatif solutif. Ketiga, bersifat otokritik terhadap pengembangan ekonomi Islam saat ini disertai masukan membangun.

Sabtu, 28 Mei 2011

Ekonomi Islam Substantif

Ada sesuatu yang menarik tatkala kita menyimak diskusi dan gumulan pemikiran para ekonom negeri ini. Iman Sugema yang representasi oposan pemerintah dalam hal kebijakan ekonomi yang diambil, tidak jarang menyuarakan pendapat yang sesungguhnya ‘bertemu muka’ dengan prinsip dan nilai-nilai ekonomi Islam. Misalnya, kerap saat otoritas moneter membuat kebijakan menaikkan suku bunga SBI, ia malah mengkritik dan cenderung lebih setuju pemikiran bunga nol persen. Demikian pula tokoh Faisal Basri. Saat berkomentar dan melakukan analisis ekonomi, ia tidak jarang melontarkan pendapat yang sejatinya adalah ruh ekonomi Islam. Umpamanya saat ia mencela pasar uang yang terlalu spekulatif sehingga kemudian menyebabkan kekacauan ekonomi, bahkan krisis. Padahal bunga nol persen dan larangan spekulasi mata uang adalah termasuk ajaran ekonomi Islam yang pertama.

Maka, hipotesis awalnya ialah: peta ‘isme’ ekonomi saat ini sedang berkontraksi antara tesis lama dengan antitesisnya, kemudian menyintesis dan bergerak menuju sebuah tesis baru -meminjam logika dialektika Hegelian. Pertanyaan bijaknya adalah, apakah tesis baru itu? Kemungkinan keduanya adalah bisa jadi terdapat irisan –baik sedikit atau banyak- antara paham/ideologi ekonomi yang satu dengan yang lain. Sebutlah misalnya kapitalisme dengan ekonomi Islam bersepaham dan beririsan sebesar 10 persen dalam hal kebebasan pasar dan tidak bolehnya intervensi yang menyebabkan market failure. Atau ekonomi Islam yang beriris dengan sosialisme dalam segi wajibnya pemerintah mengayom seluruh penduduk, terutama rakyat yang berkekurangan (proletariat) dan perlunya dana sosial untuk memback up kemiskinan. Dari sisi ini, nampaknya perlu penelaahan lebih mendalam.

Sabtu, 21 Mei 2011

Suku Bunga, Inflasi dan Krisis Keuangan Dunia


Pengalaman krisis demi krisis yang menimpa ekonomi dunia dalam satu abad terakhir ini seharusnya telah menyadarkan kepada kita bahwa masalah inflasi telah berkembang menjadi persoalan yang semakin kompleks. Diawali dengan terjadinya malapetaka yang besar (the great depressions) pada tahun 1930-an, kemudian disusul dengan terjadinya krisis Amerika Latin pada dekade 1980-an, akhirnya muncul kembali pada krisis moneter di Asia pada pertengahan tahun 1997-an, adalah pengalaman ekonomi dunia dengan inflasi tingginya (hyper inflation) yang sangat merusakkan sendi-sendi ekonomi (Triono, 2006).

Perpaduan kebijakan yang digunakan untuk mengatasi krisis malah menimbulkan krisis bertambah parah. Inilah sebuah dilema yang sampai saat ini belum terpecahkan sebagaimana secara jelas dikatakan oleh Samuelson dan Nordhaus. Bahkan mereka mengatakan kebijakan atau solusi yang ditawarkan oleh para ahli dalam memecahkan permasalahan inflasi dan pengangguran secara bersamaan justru menyebabkan efek samping yang lebih buruk dari penyakitnya itu sendiri. Ini terjadi dikarenakan “obat” yang diberikan hanya sebatas menghilangkan penyakit bagian permukaan saja, sementara penyakit bagian dalamnya masih belum disembuhkan.

Penyakit bagian dalam yang belum tersentuh oleh perpaduan kebijakan di atas adalah terkait dengan hakikat mata uang itu sendiri dan sistem yang melingkupinya serta penyalahgunaan dari fungsi dasar uang sebagai alat tukar yang bertambah menjadi tidak hanya sebatas sebagai alat tukar, melainkan juga menjadi sebuah barang (komoditas) yang turut diperdagangkan dengan imbalan bunga (interest). Yang lainnya adalah masalah kewajiban cadangan bank komersial (fractional reserve banking system).

Sabtu, 14 Mei 2011

Bank nDeso


Dunia tersentak. Kaget sekaligus takjub. Amatlah langka –bahkan nyaris tak ada, seorang yang berlatar belakang ekonomi meraih penghargaan nobel di bidang perdamaian. Lazimnya, penerima penghargaan jenis ini adalah ia yang aktif dalam hal rekonsiliasi antarnegara atau yang sejenisnya. Dan bukan lulusan strata tiga ekonomi yang tiap harinya dekat dan bergumul dengan kebanyakan orang miskin. Barangkali menjadi suatu hal wajar andaikata sang doktor meraih penghargaan nobel yang sama di bidang ekonomi. Namun tidak. Ia justru mendapat nobel dalam bidang lain: Perdamaian. Ada apa gerangan? Mengapa dan siapakah sang doktor yang kini menjadi bahan perbincangan hangat seantero dunia itu?

Ialah Profesor Muhamad Yunus, doktor lulusan negeri Paman Sam yang menjadi rising star itu. Ia berkebangsaan Bangladesh. Bangladesh adalah satu negara di benua Asia dengan jumlah penduduk terbanyak ke-8 di dunia. Atau sekitar 132 juta jiwa. Bangladesh baru mengecap kemerdekaan dari Pakistan tahun 1971. Tak kurang setengah lebih dari jumlah penduduknya berada pada garis kemiskinan. Dengan pendapatan perkapita penduduk amat rendah, yakni sekitar US$ 380, Bangladesh menjadi sebuah negara yang amat miskin, terpuruk, dan terbelakang dalam peta ekonomi negara-negara dunia. Bayangkan, sekitar 1974 atau tiga tahun setelah terbebas dari belenggu imperialis, Bangladesh mengalami famine (baca: kelaparan mahadahsyat) yang menelan bukan hanya puluhan atau ratusan. Tapi jutaan miskin. Maka tidaklah heran, jika di dunia ini ada seorang pakar kemiskinan yang belum berkunjung dan menganalisis negara kecil ini, maka belumlah sempurna kepakarannya.

Sabtu, 07 Mei 2011

Riset Ekonomi Islam: Peluang dan Tantangan

Hari ini, dunia sedang dikejutkan dengan perkembangan yang mencengangkan akan sebuah disiplin ilmu –yang sesungguhnya bukanlah barang baru- yang dipastikan paling banyak menyentuh problem masyarakat dunia. Saat ini ekonomi Islam sedang mengalami euforia, baik di negara berkembang, atau di negara maju sekalipun. Industri keuangan serta bentuk lembaga ekonomi Islam lain tumbuh di seantero jagat, mulai dari Timur Tengah, kawasan Asia hingga negara-negara Barat seperti Inggris. Di Indonesia, ekonomi Islam sebagian besar mengejawantah menjadi ‘industri keuangan syariah’, utamanya Bank Syariah yang juga menjadi entitas yang paling laku ‘dijual’ pasca krisis moneter 1997.

Jika kita menggunakan kacamata kritis, maka di sana ada hal yang patut kita perhatikan. Perkembangan ekonomi Islam di tataran praktek, tidak diimbangi dengan pengembangan ekonomi Islam pada sisi teori. Padahal, sebagai sebuah ilmu, semestinya ekonomi Islam juga bukan hanya perlu ditransformasikan ke dalam tataran praktis-implementatif tetapi harus pula diiringi dengan perkembangan di sisi akademis-teoretis. Keduanya mesti berjalan beriringan. Tidak kemudian satu berlari dan yang lainnya berjalan di tempat. Dan berpijak dari argumentasi inilah, riset-riset pengembangan keilmuan ekonomi Islam menjadi amat penting.

Sabtu, 30 April 2011

Krisis Ekonomi dalam Perspektif Ekonomi Islam

1. Pendahuluan
Dalam menganalisis penyebab utama timbulnya krisis moneter, banyak para pakar ekonomi berkesimpulan bahwa kerapuhan fundamental ekonomi (fundamental economic fragility) adalah merupakan penyebab utama munculnya krisis ekonomi. Hal ini seperti disebutkan oleh Michael Camdessus (1997), Direktur International Monetary Fund (IMF) dalam kata-kata sambutannya pada Growth-Oriented Adjustment Programmes (kurang lebih) sebagai berikut:
"Ekonomi yang mengalami inflasi yang tidak terkawal, defisit neraca pembayaran yang besar, pembatasan perdagangan yang berkelanjutan, kadar pertukaran mata uang yang tidak seimbang, tingkat bunga yang tidak realistik, beban hutang luar negeri yang membengkak dan pengaliran modal yang berlaku berulang kali, telah menyebabkan kesulitan ekonomi, yang akhirnya akan memerangkapkan ekonomi negara ke dalam krisis ekonomi".

Ini dengan jelas menunjukkan bahwa defisit neraca pembayaran (deficit balance of payment), beban hutang luar negeri (foreign debt-burden) yang membengkak--terutama sekali hutang jangka pendek, investasi yang tidak efisien (inefficient investment), dan banyak indikator ekonomi lainnya telah berperan aktif dalam mengundang munculnya krisis ekonomi.

Sementara itu kita melihat bahwa sungguh sangat langka ataupun boleh dikatakan tidak ada sama sekali tulisan-tulisan yang menyoroti faktor-faktor penyebab krisis ekonomi dari aspek-aspek keagamaan (religious aspect), aspek etika ekonomi (economic ethical aspects), aspek tingkah laku para pelaku ekonomi (economic behavioral agents), dan aspek-aspek kualitatif lainnya. Oleh karena itu, tulisan ini diharapkan dapat mengisi kokosongan tersebut dengan menganalisa sebab-sebab timbulnya krisis ekonomi ditinjau dari kacamata ekonomi Islam.

Sabtu, 16 April 2011

Mengurai Masalah Pengembangan Sukuk Korporasi di Indonesia: Pendekatan Metode Analytic Network Process (ANP)

Abstract

The growth of corporate sukuk in Indonesia is relatively slow compare to the global trend of sukuk. Even this country have potential market and awareness to develop Islamic economic system. This paper tries to analyze the problem of developing corporate sukuk in Indonesia using Analytic Network Process (ANP) method. Proceeded by literature survey and in-depth interview with scholars, practitioners, and regulator of Islamic capital market to fully understand the problem. The cause of this problem can be grouped into four aspects, namely: 1) market player; 2) product characteristic; 3) regulation; and 4) government. This research finds that the problems of developing corporate sukuk in Indonesia could be summed up into two main causes from market player and regulation aspects, namely the lack of market player understanding and quality of human resource which involve in Islamic capital market, and also the uncertainty of tax regulations.
Some solutions that might put forward are to increase understanding of market player by promoting Islamic capital market intensively, and then providing quality of human resource by training and education comprehensively. Other suggested solution from government aspect is to give support through issuance sovereign sukuk. Moreover, the most effective policy strategy to overcome the problems of Islamic capital market, especially in developing corporate sukuk market is by implementing market driven strategy, where policies are made based on market demand consideration.

JEL Classification: E44, G38
Keywords: Islamic Capital Market, Corporate Sukuk, ANP

Sabtu, 02 April 2011

Peranan Ekonomi Syariah dalam Pembangunan Daerah

Abstraksi

Otonomi Daerah merupakan keputusan politis yang menjadikan penyelenggaraan pemerintahan yang sentralistik-birokratis ke arah desentralistik-partisipatoris. Undang-undang Nomor 22 tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah telah melahirkan paradigma baru dalam pelaksanaan Otda, yang meletakkan otonomi penuh, luas, dan bertanggung jawab pada daerah kabupaten dan kota. Di sisi lain, ekonomi Islam Indonesia yang dimotori oleh entitas perbankan syariah seperti menemukan momentumnya pasca terjadi krisis ekonomi 1998. Industri keuangan syariah mengalami percepatan pertumbuhan. Bahkan lembaga-lembaga keuangan syariah juga berkembang hingga ke daerah-daerah.
Tulisan ini hendak mencoba menjelaskan bagaimana peranan ekonomi syariah dalam pembangunan daerah khususnya dalam bidang ekonomi-sosial. Tulisan ini juga mencoba menguraikan perkembangan ekonomi syariah Indonesia baik dari sisi keuangan dan non-keuangan, faktor pendorong, hingga implikasinya terhadap perkembangan ekonomi Nasional secara makro.

Kata Kunci: Ekonomi Islam, Bank Syariah, Otonomi Daerah

Sabtu, 19 Maret 2011

Determinan Inflasi Indonesia: Perbandingan Pendekatan Islam dan Konvensional

Abstract

Inflation is a monetary phenomenon which always be a problem for the economist in every country. The determinant factor of increasing price can be analyzed to get the best solution. Islamic and conventional economic have different paradigm about solution that should be done. This study try to analyze the determinant of Indonesian inflation with two approaches model using Vector Auto Regression (VAR) and Vector Error Correction Model (VECM) methods.
The results of variance decomposition, show that contribution of independent variable in Islamic model is greater than conventional one with 14.8 percent and 7.4 percent, respectively. Other findings show that interest rate gives positive influence and dominant contribution to IHK than other variables both, in Islamic model (13%) and mixed model (39%). Therefore, interest system in the Indonesian economy should be reconsidered to achieve monetary stability.

JEL Classification: C32, E31, E52
Keyword: Determinan Inflasi, Sistem Moneter, VAR/VECM



Sabtu, 12 Maret 2011

Korelasi Antara Perdagangan Internasional, Pertumbuhan Ekonomi, dan Perkembangan Industri Keuangan Syariah di Indonesia

ABSTRAKSI

Di dalam konteks ekonomi terbuka, perdagangan internasional dalam hal ini adalah ekspor dan impor, dan aliran dana antarnegara menjadi sesuatu yang tidak dapat dinafikan perannya dalam pemberian kontribusi bagi pertumbuhan. Sedangkan untuk hubungan keduanya terhadap perkembangan industri keuangan syariah di Indonesia nampaknya hingga saat ini belum ada yang mencoba menelisik lebih jauh. Studi ini mencoba menganalisis pola hubungan antara perdagangan internasional, pertumbuhan ekonomi dan perkembangan industri keuangan dan bisnis syariah di Indonesia dengan menggunakan metode Vector Auto Regression (VAR) dan Vector Error Correction Model (VECM).
Hasilnya menunjukkan bahwa pola hubungan antara ekspor dan growth adalah bi-directional causation yakni growth driven export dan export led growth. Begitu pula variabel impor. Temuan lain yang menarik adalah bahwa ternyata booming industri syariah belakangan ini tidak berkorelasi positif terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia secara makro. Begitu pula fakta bahwa semakin besar growth Indonesia tidak diiringi dengan semakin suburnya industri keuangan syariah. Oleh karena itu, syarat utama agar share industri syariah Indonesia dapat tumbuh dan berkembang signifikan adalah perlu political will dari pemerintah.

Keywords: Perdagangan Internasional, Growth, Keuangan Syariah, VAR/VECM



Sabtu, 05 Maret 2011

Peran Perbankan Syariah dalam Mendukung Agroinvestasi

ABSTRAKSI

            Indonesia is an agrarian country. More of 40 percent of citizens are in there sector. However, it is not easy to face the challenges in agriculture. One of primary problem in agriculture sector is about capital endorsement. This paper tries to analyze the chance of financing agriculture sector may be given by Islamic banking industries in Indonesia, the challenges and steps that will be done, using descriptive statistic. The results show that sharia financing scheme has potentially very powerful prospect as an alternative within agriculture sector problems in Indonesia. To motivate the implementation, we hope that sharia banking industries braver and more incessant give the financing by existing various scheme. For recommendation, Bank Indonesia as monetary authority could offer full support by giving incentives they need.

JEL Classification: G24, Q14, Q18
Kata Kunci: Agro Investasi, Skema Syariah, Perbankan Syariah, Pembiayaan Sektor Pertanian


Sabtu, 26 Februari 2011

Telaah Pemikiran Ekonomi Maqrizi tentang Inflasi


ABSTRACT

Salah satu problem penting yang dihadapi ekonomi dunia hingga kini adalah masalah inflasi. Secara sederhana inflasi berarti naiknya harga barang dari keadaan lazimnya. Ternyata, jauh sebelum pemikiran ekonomi para ahli layaknya Friedman, Fisher, Keynes, dan para ekonom dunia lain tentang inflasi dan perkara moneter lain, dunia Islam telah lebih awal mempunyai tokoh yang concern di bidang ini. Taqiyuddin Abul Abbas Al-Husaini dari Maqarizah, Kairo. Atau lebih dikenal dengan sebutan Al-Maqrizi. Maqrizi mengatakan di beberapa bagian bukunya bahwa inflasi secara umum terbagi dua, yakni Natural Inflation dan Human Error Inflation. Tulisan ini akan mencoba mengkomparasi beberapa pemikirannya –lebih spesial masalah inflasi- dengan pendapat dan konsep positivistik konvensional dalam bidang yang serupa.

Kata Kunci: Inflasi, Moneter, Al-Maqrizi
JEL: B15, B22, E31


Sabtu, 19 Februari 2011

Mekanisme Transmisi Syariah pada Sistem Moneter Ganda di Indonesia

Abstract

The transmission mechanism of monetary policy has been an area of abundant economic research in many countries. The financial system links monetary policy and the real economy. Thus, events or trends that affect the financial system can also change the monetary transmission mechanism. This study tries to analyze shariah transmission mechanism in Indonesian dual monetary system, using Vector Auto Regression (VAR) and Vector Error Correction Model (VECM) methods.
Results show that the relationship between SWBI (SBI Shariah) and shariah financing (LNFINCG) is negative. It means, when SWBI be higher, the quantity of shariah financing would be lower. And so do SBI and inflation (LNIHK). When the total of shariah financing be increase, it will gives positive contribution for reducing inflation rate in Indonesia, because with this system possibility to make equal growth among monetary and real sectors appears. Therefore, it will be strategic action for monetary authority to grow up shariah banking share in Indonesia, for minimizing ‘bad inflation’ in economy. Other recommendation, SWBI as shariah monetary instrument should be reconsidered to achieve positive impact for real sector.

JEL Classification: C32, E31, E42, E52
Keywords: Shariah Transmission Mechanism, Dual Monetary System, VAR/VECM


Sabtu, 12 Februari 2011

Mencandera Industri Perbankan Syariah Indonesia: Tinjauan Kritis Pasca UU 21 Tahun 2008

Abstract

After UU 21 exist, shariah banking industries will predicted find the momentum. Shariah bank will make improvement. The content of rules are possible to push the growth of shariah banking in Indonesia. But in the fact, there are some important thing related to instrument and shariah banking product also that less ideal in this banking industries. In this paper, we try to find and predict deeper about condition of shariah banking in Indonesia after UU 21, we also put lot of critical that will be send them. The result show that after the rules had exist, in short term we can not see the positive effect, significantly. In other case, we find a lot of thing that not come from genuine shariah banking, that in the future will have negative impact in the long term, such as: SBI Shariah instrument, shariah credit card, the domination of non PLS and other thing else.
Keywords: Perbankan Syariah, UU 21 Tahun 2008                                                

Sabtu, 05 Februari 2011

Ekonomi Esok Hari

Sistem kapitalisme global mulai robek-robek jahitannya”, begitu ucap seorang kapitalis tulen, George Soros, dengan objektifnya. Ini menjadikan indikasi yang nyata akan terjadinya pergeseran bandul ekonomi dunia berikut sistem dan perangkatnya. Maka, jalan lain ekonomi mutlak dicari, sebagai kebutuhan yang urgen bagi masyarakat dunia sekarang.

Ekonomi dunia yang dalam nyatanya terus-menerus mencari bentuk paling ideal –sebagai racikan paling manjur- sempat beberapa kali jatuh bangun. Dua konsep terdahulu (Sosialisme dan Kapitalisme) terbukti gagal membawa manusia ke kesejahteraan. Uni Sovyet sebagai representasi Sosialisme telah bosan diperdaya dan membuang jauh-jauh ide ekonominya ke tong sampah. Dengan glasnot dan prestroikanya, terjadilah reformasi ekonomi.

Pun demikian yang kedua. Kapitalisme dengan revisinya menghasilkan Welfare State (Negara Kesejahteraan), tapi tetap saja tidak mampu menjawab tuntas masalah. Hal ini terbentur prinsip distribusi lewat mekanisme harga, berikut tambahan campur tangan negara untuk membayar kebutuhan rakyat yang tidak bekerja melalui asuransi yang preminya dibayar oleh negara. Satu hal yang paling menonjol pada sistem ekonomi made man adalah kesalahpahaman terhadap problem pokok manusia: menghilangkan kecemburuan sosial orang-orang miskin (dampak Kapitalisme) dan munculnya budaya malas dan konsumtif (pada sistem Sosialis).

Sabtu, 29 Januari 2011

Mencandera Industri Perbankan Syariah Indonesia


Industri perbankan syariah kini memasuki era baru. UU Perbankan Syariah (UU PS) yang memuat 70 pasal, resmi disahkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat pada 17 Juni 2008 dan ditandatangani oleh pemerintah sekitar pertengahan Juli. Dukungan regulasi ini dicandera (baca: diprediksi) akan memberi dampak positif bagi perbankan syariah nasional. Perkembangan pesat perbankan syariah selama ini tidak bisa dilepaskan dari dukungan regulasi. Kehadiran bank syariah pertama pada 1992, Bank Muamalat, terjadi berkat dukungan UU No. 7/1992. Perkembangan perbankan syariah secara pesat sejak 1999 juga merupakan hasil dari dukungan regulasi yang memadai yaitu UU No. 10/1998 dan UU No. 23/1999 yang kemudian diperkuat oleh UU No. 3/2004.

Bagaimanakah fakta empiris yang terjadi pada industri perbankan syariah pasca terbitnya Undang-Undang No 21 ini? Memang ada pandangan optimis dan pesimis. Namun itu secara mutlak terjawab oleh fakta. Faktanya jika melihat indikator perkembangan aset perbankan syariah, misalnya, memang terjadi kenaikan aset month to month. Rata-rata kenaikan adalah 0,04 hingga 0,05% per bulan. Jika diasumsikan kenaikan tersebut adalah konstan dan tidak terjadi akselerasi yang signifikan, maka hasil simulasi menunjukkan bahwa bank syariah butuh waktu sekitar 2000 bulan lagi untuk mencapai 100% share perbankan syariah Indonesia (100/0,05) atau setara dengan lebih kurang 144 tahun. Sebuah masa yang masih amat panjang dan berliku. Belum lagi jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan yang kemudian menghambat perkembangan perbankan syariah. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi seluruh stakeholder dan kalangan perbankan syariah Indonesia di masa mendatang.

Sabtu, 22 Januari 2011

Pemberdayaan Masyarakat a la Grameen: Kritik Ekonomi Islam

ABSTRAKSI

Upaya pengentasan kemiskinan dapat dilakukan antara lain dengan memutus mata rantai kemiskinan itu sendiri, diantaranya adalah dengan pemberian akses yang luas terhadap sumber-sumber pembiayaan bagi Usaha Kecil dan Mikro (UKM) yang dilakukan oleh lembaga-lembaga keuangan bank maupun lembaga mikro. Lembaga keuangan mikro yang saat ini sedang fenomenal adalah Grameen Bank (GB) yang diprakarsa Muhammad Yunus di Bangladesh. Setelah Yunus mendapat Nobel Perdamaian dari PBB, Grameen kemudian mendunia.
Tulisan ini mencoba untuk menelisik lebih jauh tentang Model Pemberdayaan Masyarakat Grameen, dampak positif-negatif hingga pandangan Ekonomi Islam tentangnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa sisi positif GB nampak jelas terlihat, meski beberapa hal tidak sejalan dengan prinsip ekonomi Islam: bunga yang relatif tinggi dan womensentris. 

JEL Classification: G23, G28, I32
Keywords: Pemberdayaan Masyarakat, UKM, Grameen, Ekonomi Islam