.: SELAMAT DATANG DI BLOG EKONOMI ISLAM SUBSTANTIF -- Blog dengan konten riset ekonomi dan keuangan syariah terdepan. :.

Rabu, 21 September 2016

Kontribusi Input Output Atas Efisiensi Kantor Cabang Bank Syariah



Untuk mengetahui berapa banyak variabel input dan output berkontribusi terhadap nilai efisiensi dapat dilakukan dengan cara membandingkan nilai "input output contribution" dengan "potential improvement". Apabila input output contribution bernilai besar, maka hal tsb mengindikasikan positifnya variabel tersebut dalam menyumbang terhadap nilai efisiensi. Sementara itu "potential improvement" yang bernilai besar berarti sebaliknya. Variabel input output tersebut berarti ada kelemahan dan perlu ditingkatkan.

Berikut di bawah ini adalah contoh analisis dari kantor cabang sebuah bank syariah. Warna hijau berarti variabel input/output itu berkontribusi terhadap nilai efisiensi. Kuning berarti variabel input/output itu berkontribusi rendah terhadap pencapaian nilai efisiensi. Sementara itu warna merah mengindikasikan bahwa variabel input/output itu penyumbang inefisiensi. 

Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa pada kantor cabang utama sebuah bank syariah, KC Kota A, variabel Input yang berkontribusi besar dalam tingkat efisiensi adalah biaya promosi dan biaya operasional, sedangkan dari variabel output-nya yang berkontribusi besar yaitu kredit komersial dan dana konsumer. 

KC Kota B yang berkontribusi besar dalam tingkat efisiensi adalah variabel biaya operasional dan dana komersial. KC Kota C yang berkontribusi besar dalam tingkat efisiensi adalah variabel biaya SDM, biaya promosi, kredit konsumer, dana komersial, dana konsumer. 

KC Kota D yang berkontribusi besar dalam tingkat efisiensi adalah variabel biaya SDM, biaya promosi, kredit komersial, dana komersial dan dana konsumer. Kemudian KC Kota E yang berkontribusi besar dalam tingkat efisiensi adalah variabel biaya SDM, biaya promosi, kredit konsumer dan dana komersial. Dan demikian seterusnya.

SMART Consulting melalui desk RISK telah banyak meneliti terkait perbankan syariah di Indonesia, dengan multiapproach. Untuk melihat secara detail, Anda dapat berkunjung ke alamat berikut http://risk-institute.blogspot.co.id/

Senin, 19 September 2016

XY Plot Untuk Penentuan Variabel Input Output yang Tepat dalam DEA



Window X-Y plot tersedia di dalam frontier analisis. Bagian ini membantu peneliti untuk menentukan variabel yang harus dimasukkan dalam analisis. Jika satu atau lebih variabel memiliki hubungan korelasi positif dengan variabel lainnya, maka kita memungkinkan untuk mengeluarkan salah satu variabel dari analisis tersebut (hubungan korelasi positif mengindikasikan bahwa variabel tersebut merepresentatifkan gejala yang sama). 

Pengeluaran suatu variabel akan mendapatkan keuntungan pengurangan jumlah variabel yang digunakan, memastikan diskriminisasi yang lebih baik diantara unit yang akan dianalisis. Ada “rule of thumb” dalam DEA dimana (jumlah output * jumlah input) = jumlah unit efisien secara potensial. 

Korelasi antara dua variabel ini ditunjukkan di sisi pojok kanan atas window X-Y plot. Jika dua variabel berkorelasi tinggi, hal ini merepresentasikan basic data yang sama. Jika peneliti dapat menghilangkan satu variabel, hal itu akan meningkatkan diskriminasi dalam analisis. 

Untuk contoh proyek di atas, dua variabel perpustakaan dan penelitian, jelas memiliki korelasi yang tinggi dan sebagaimana hasilnya, satu dari variabel ini harus dihilangkan dari analisis. Ini bisa dicapai dengan membuat satu variabel tidak aktif secara temporer dan kemudian mengolah kembali analisis tersebut untuk menaksir pengaruh tindakan ini tanpa skor efisien. 

Korelasi yang mendekati 0, menandakan bahwa terjadi peningkatan nilai dari salah satu variabel yang tidak mempengaruhi variabel lainnya. Korelasi negatif juga terjadi antara dua variabel dan ini mengindikasikan nilai yang tinggi dari salah satu faktor yang dihubungkan dengan nilai yang rendah dari faktor lainnya.

Kotak ceklis ke arah kanan variabel sumbu Y yang ditunjukkan memungkinkan peneliti untuk menandakan point pada plot X-Y untuk menentukan posisi unit. Bagaimanapun, dengan tanda (label) memungkinkan Anda menemukan tampilan menjadi padat dengan nama-nama unit.

Kesimpulannya, XY Plot Window ini sangat bemanfaat untuk melihat variabel input dan output mana yang tepat dan menjadi variabel yang akan diolah dalam metode Data Envelopment Analysis. Hal ini menjadi penting karena konsep efisiensi dalam DEA adalah efisiensi relatif. Setiap perubahan penentuan input output akan memiliki nilai/skor berbeda dalam hasil efisiensinya.

Sabtu, 17 September 2016

Efficiency Plot Window untuk Melihat Sebaran Unit Efisiensi DMU



Dalam pendekatan Data Envelopment Analysis, hasil utama yang dianalisis adalah angka atau skor efisiensi masing-masing DMU. Selain itu, didapat pula potensi pengembangan input output atau dikenal dengan istilah potential improvement. Selain kedua hal penting di atas, ada pula analisis tambahan yakni Effiiciency Plot Window.

Efficiency Plot menunjukkan sebaran plot unit efisiensi pada variabel input dan output. Plot ini juga bisa berguna dalam mengidentifikasi unit dengan karakteristik tertentu baik yang tidak efisien ataupun yang efisien. Ini dilakukan dengan memplot satu variabel terpilih untuk menaksir korelasi dengan skor efisiensi.

Sebagai contoh, data yang digunakan adalah bank umum syariah di Indonesia dengan data 2 tahun terakhir, 2014-2015. Sebagai variabel input adalah Dana Pihak Ketiga (X1), Biaya Personalia (X2) dan Biaya administrasi-umum. Sementara itu untuk variabel output yaitu Total Pembiayaan (Y1) dan Pendapatan Operasional (X2). Penggunaan DPK dan pembiayaan dalam input-output karena penelitian ini menggunakan pendekatan intermediasi. 

Beberapa BUS yang tergolong dalam bank syariah dengan efisiensi tinggi adalah: Maybank syariah, Panin syariah dan BCA Syariah. Sementara itu, bank umum syariah yang memiliki nilai efisiensi menengah adalah: BSB, BTPN Syariah, BNI Syariah dan BJB. Dari hasil ini nampak bahwa skala/ukuran ekonomi bank berpengaruh terhadap tingkat efisiensi yang dicapai.

Korelasi antara skor efisiensi dalam contoh penelitian di atas adalah 0.39. Hal ini mengindikasikan bahwa hanya ada sedikit hubungan antara pendapatan operasional yang diperoleh bank syariah yang menjadi objek dengan skor unit efisiensi. Kemudian, lihat detail plot X-Y. Korelasi yang tinggi antara variabel dan efisiensi mengindikasikan bahwa variabel tersebut merupakan sebuah kunci efisiensi, dan hal itu penting.

Selain mampu memplotting tingkat efisiensi, DEA juga dapat memplot antarvariabel input output X-Y, dan juga membuat frontier plot.

Kamis, 15 September 2016

Penyerapan Sukuk dan Obligasi dalam Pembiayaan Defisit Anggaran



Sejak tahun 2010 hingga 2015, APBN Negara Indonesia selalu defisit, yang artinya lebih besar belanja negara dari pada penerimaan negara yang didapatkannya. Sebagaimana data statistik Kementerian Keuangan menyatakan bahwa rasio defisit APBN terhadap PDB pada tahun 2010 adalah 0.73%. Kemudian tahun 2011, 2012, 2013, 2014 dan 2015 masing-masing 1.14%, 1.86%, 2.33%, 2.40% dan 2.56%. 

Jika melihat data tersebut, maka defisit APBN mengalami keadaan yang fluktuatif, sehingga menyebabkan bertambahnya beban utang nasional. Dengan hal ini, jelas bahwa negara membutuhkan dana tambahan untuk menutup defisit tersebut. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 mengenai Keuangan Negara menyebutkan bahwa defisit anggaran dibatasi maksimal sebesar 3% dan utang maksimal 60% dari PDB. Salah satu langkah pemerintah dalam menutupi defisit, pemerintah melakukan pembiayaan, baik pembiayaan utang maupun pembiayaan non utang.

Penelitian yang dilakukan SMART ini bertujuan untuk menganalisis: (i) perbandingan penyerapan sukuk dan obligasi dalam pembiayaan defisit anggaran negara; (ii) variabel yang mempengaruhi defisit anggaran. Data yang digunakan adalah data sekunder dari Bank Indonesia, BPS, Kementerian Keuangan, IDX, Kementerian Perdagangan, dengan data monthly, periode Februari 2009 – Desember 2015. Penelitian ini menggunakan metode Two Stage Least Square (2SLS). 

Hasilnya menunjukkan, jika melihat pada persamaan 1 dapat diketahui bahwa pengaruh penerbitan sukuk lebih besar dan efektif dibandingkan dengan obligasi dalam penyerapan pembiayaan defisit anggaran. Hal ini dikarenakan sukuk berdasarkan underlying asset yang nilainya sesuai dengan aset tersebut dan tidak menggunakan interest rate. 

Berdasarkan analisis penelitian, maka dapat diberikan saran kepada pengambil kebijakan, dalam hal ini Kementerian Keuangan dan Otoritas Jasa Keuangan, yaitu agar dapat mempertimbangkan peran penerbitan sukuk yang memiliki pengaruh signifikan dalam pembiayaan defisit anggaran APBN tanpa mengesampingkan peran obligasi. 

Dalam mendukung hal tersebut maka diperlukan perbaikan dan peningkatan standar kepastian hukum yang membuat kesadaran dan permintaan para investor terhadap sukuk meningkat. Dengan hal tersebut diharapkan dapat mengatasi kekurangan pembiayaan defisit anggaran APBN. Dengan kondisi keuangan APBN yang kuat, diharapkan dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi dan pembangunan Indonesia. 

Di samping itu pembangunan yang baik tidak hanya terkonsentrasi pada tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi, melainkan diperlukan adanya pemerataan distribusi kekayaan dan pendapatan di antara masyarakat. Sehingga pertumbuhan ekonomi yang tinggi tersebut tidak menjadi bias.