.: SELAMAT DATANG DI BLOG EKONOMI ISLAM SUBSTANTIF -- Blog dengan konten riset ekonomi dan keuangan syariah terdepan. :.

Jumat, 26 Agustus 2016

SMART Consulting Training Agenda 2016


Dampak Pembiayaan Bank Syariah dan Kredit Konvensional terhadap Tingkat Inflasi



Bagaimanakah dampak kredit perbankan terhadap kondisi inflasi IHK di Indonesia secara umum? Apakah pembiayaan (financing) bank syariah maupun kredit bank konvensional ikut menyumbang terhadap angka inflasi? Melalui pendekatan Vector Autoregression (VAR), SMART melakukan studi terkait hal ini.

Data yang digunakan dalam studi ini adalah data sekunder berupa time series bulanan yang didapat dari Statistika Ekonomi dan Keuangan Indonesia (SEKI), Statistika Perbankan Syariah (SPS) dan Statistika Perbankan Indonesia (SPI). Seluruh data dimulai dari periode Bulan Januari 2010 hingga Desember 2015. 

Sebagai variabel dependen adalah tingkat inflasi diproksi menggunakan indeks harga konsumen di Indonesia. Total pinjaman bank syariah (LNFIN) adalah jumlah pinjaman yang dikeluarkan oleh perbankan syariah minus BPRS, sementara total kredit perbankan konvensional (LNLOAN) diproksi dengan total kredit yang dikeluarkan oleh perbankan konvensional dalam rupiah. Tingkat bunga menggunakan Sertifikat Bank Indonesia. Sedangkan tingkat bagi hasil pinjaman secara agregat menggunakan proksi tingkat bagi hasil SBI Syariah.

Hasil di atas menunjukkan bahwa respon indeks harga konsumen (LNIHK) terhadap guncangan variabel lainnya berfluktuasi. Kita dapat mencermati bahwa LNIHK merespon negatif guncangan variabel pembiayaan perbankan syariah (LNFIN). Artinya, semakin tinggi jumlah pembiayaan perbankan syariah Indonesia akan berpengaruh dan berkontribusi positif pada penurunan tingkat inflasi Indonesia. 

Alasan bahwa pembiayaan syariah akan menurunkan tingkat inflasi adalah karena pembiayaan perbankan syariah khususnya pembiayaan produktif berprinsip bagi hasil akan memungkinkan terjadinya pertumbuhan yang seimbang antara sektor moneter dan sektor riil. Keseimbangan tersebut disebabkan oleh prinsip ‘profit lost sharing’ yang membagi pendapatan (revenue) peminjam.

Sementara itu, pola hubungan antara LNIHK dengan LNLOAN adalah positif. Sehingga dapat kita katakan bahwa semakin besar dana kredit yang digelontorkan oleh entitas perbankan konvensional, ternyata berdampak pada meningkatnya inflasi. Begitu pula halnya dengan instrumen moneter seperti SBI. 

Kesimpulan ini bersesuaian dengan hasil penelitian yang dilakukan Ascarya (2009) dan Rusydiana (2010). Menurutnya, instrumen suku bunga yang direpresentasikan dengan SBI, adalah determinan inflasi utama di Indonesia. Suku bunga adalah penyebab inflasi yang paling besar dibandingkan dengan variabel lain di dalam model.

Kamis, 25 Agustus 2016

Metode SFA untuk Pengukuran Tingkat Efisiensi Bank Syariah



SFA atau Stochastic Frontier Approach memiliki fungsi dan metode yang sama seperti DEA. Perbedaannya terletak pada cara menghitung batas efisiensi. Pada SFA batas efisiensi diplot dengan bantuan fungsi matematika dan membutuhkan asumsi yang pasti untuk membuat hubungan antara input dan output. Jika DEA tergolong metode pengukuran efisiensi nonparametrik, maka SFA masuk kategori parametrik.

Data yang digunakan adalah seluruh Bank Umum Syariah mulai periode 2012-2015. Data variabel independen dan dependen didapat dari laporan neraca dan laba rugi masing-masing bank. Sebagai variabel dependen  adalah adalah Total Pendapatan. Sementara itu untuk variabel independen (X) yakni Total Pembiayaan (X1), Dana Pihak Ketiga (X2), Biaya Personalia (X3) dan Biaya administrasi-umum (X4). 

Dalam metode SFA, terbagi 2 pendekatan utama: profit efficiency dan cost efficiency. Penelitian ini menggunakan pendekatan efisiensi profit. Pendekatan profit efficiency secara konsep ekonomi jauh lebih baik dibandingkan dengan pendekatan cost efficiency (Berger dan Mester (2007). Konsep efisiensi keuntungan lebih superior terhadap efisiensi biaya untuk mengevaluasi keseluruhan performance dari sebuah perusahaan dan menyarankan sebuah model efisiensi keuntungan. (Astiyah dan Husman (2005)).

Hasil temuan ditampilkan pada gambar di atas. Pada tahun terakhir (2015), 3 bank syariah tertinggi tingkat efisiensinya adalah: BNI Syariah (1.00), BSM (0.93) dan BRI Syariah (0.92). Hasil ini relatif sesuai dengan hasil pengukuran efisiensi dengan nonparametrik DEA. Sayangnya, metode pengukuran SFA relatif terbatas dari sisi output. Tidak ada rekomendasi berupa potential improvement ataupun bencmarking yang biasa muncul dalam penggunaan DEA.

Untuk memilih teknik analisis mana yang akan dipakai, peneliti harus memerhatikan faktor-faktor yang memengaruhinya, yaitu: (a) Nilai skala yang konstan/ variabel (constant or variable returns to scale), (b) Kekurangan data (data deficiencies) dan (c) Jumlah pengamatan.

Apabila peneliti menggunakan lebih dari satu teknik dalam waktu bersamaan maka tiap teknik yang digunakan untuk mengukur efisiensi terdapat kelebihan dan kekurangan masing-masing. Jika semua teknik muncul dengan temuan yang sama maka pernyataan yang akan dibuat akan lebih dapat diandalkan.

Rabu, 24 Agustus 2016

Mengapa Tingkat Efisiensi Industri Perbankan Syariah Indonesia Relatif Rendah?



Tingkat kompetisi bank syariah vis a vis bank konvensional saat ini tergolong rendah. Efisiensi teknis maupun efisiensi skala bank syariah relatif tertinggal dibanding bank konvensional. Berbeda dengan kondisi di Malaysia. Bank syariah di Malaysia lebih mampu bersaing dengan industri perbankan konvensionalnya. Lantas mengapa hal itu terjadi? Kali ini, studi yang dilakukan SMART akan mencoba mengukur Total Potential Improvement perbankan syariah Indonesia dari perspektif industri.

Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode nonparametric Data Envelopment Analysis (DEA) dengan pendekatan intermediasi. DEA adalah metode pengukuran efisiensi berbasis input output (Coelli (1998). Cooper et al (1999) dan Farrell (1957)). 

Variabel output dari DMU terdiri dari Total Pembiayaan (Y1) dan Pendapatan Operasional (Y2), sementara variabel input terdiri dari Dana Pihak Ketiga (X1), Biaya Personalia (X2), dan Biaya Administrasi dan Umum (X3). Skor DEA akan diperoleh dari variabel-variabel ini, yang merupakan hasil pembagian antara faktor output dengan input (Charnes, Cooper dan Rhodes, 1978).

Penelitian ini menggunakan data sekunder tahun terakhir yakni tahun 2015 yang sudah dipublikasikan sebagai data pokok, seperti laporan keuangan, neraca, dan laporan arus kas. Data pokok tersebut dapat diperoleh dari publikasi yang diterbitkan oleh masing-masing bank syariah. 

Total Potential Improvement digunakan untuk mengetahui faktor penyebab inefisiensi bank syariah dalam pengamatan ini. Gambar di bawah menunjukkan informasi total potential improvement yang dapat memberikan gambaran umum terkait inefisiensi bank syariah secara industri, bukan per bank.

Grafik total potential improvement menyebutkan bahwa secara industri, inefisiensi bank syariah berasal dari pendapatan operasional (64.53%). Agar mencapai efisiensi optimal, bank syariah perlu untuk meningkatkan output tersebut.

Selanjutnya, agar mencapai tingkat efisiensi yang lebih baik, bank syariah perlu meningkatkan jumlah pembiayaan sebesar 22.81%. Di samping itu, dari sisi input, perbankan syariah perlu melakukan efisiensi usaha dari sisi beban personalia sebesar 6.50% dan beban administrasi-umum sebesar 6.16%. Usaha-usaha ini penting untuk dilakukan agar tercapai tingkat efisiensi yang lebih optimal.

Selasa, 23 Agustus 2016

Pemetaan Efisiensi Sosial dan Finansial Bank Syariah



Lazimnya, pengukuran tingkat efisiensi bank syariah hanya menyentuh pada sisi efisiensi finansial, baik pendekatan produksi, intermediasi maupun pendekatan aset. Tapi bagaimanakah pengukuran performa bank syariah jika ditinjau dari perspektif efisiensi sosial? Lalu, manakah yang tergolong high financial efficiency sekaligus highsocial efficiency? SMART Consulting melalui desk RISK melakukan penelitian terkait hal ini. 

Variabel input dan output untuk pengukuran efisiensi finansial adalah: DPK, Biaya Personalia dan Biaya Administrasi untuk variabel Input serta Pembiayaan dan Pendapatan Operasional untuk output. Sementara itu variabel input dan output untuk pengukuran efisiensi sosial adalah: DPK, Biaya Personalia dan Biaya Administrasi untuk variabel Input serta pembiayaan Kredit Usaha Kecil (KUK) dan dana sosial untuk output.

Bank Umum Syariah dikelompokkan ke dalam 4 (empat) kuadran berdasarkan kategori tingkat efisiensi finansial dan efisiensi sosial, yakni high dan low . Kuadran 1 meliputi bank umum syariah yang memiliki tingkat efisiensi finansial dan sosial yang tinggi, sehingga dapat dianggap sebagai bank syariah terbaik dibanding kelompok kuadran lain. 

Pada sisi lain, Kuadran 4 merupakan kelompok bank umum syariah dengan tingkat efisiensi yang rendah dan stabilitas nilai efisiensi yang tinggi. Kumpulan bank umum syariah pada kelompok ini dapat dianggap sebagai bank syariah yang memiliki tingkat efisiensi yang rendah dan relatif persisten tingkat efisiensinya. Artinya, cenderung tidak ada kenaikan pada tingkat efisiensi yang dicapainya.

Kuadran 1 mencakup BUS yang memiliki tingkat efisiensi yang tinggi, tapi di sisi lain mempunyai tingkat stabilitas efisiensi yang rendah. Kumpulan bank umum syariah pada kelompok ini dapat dianggap sebagai bank syariah dengan nilai efisiensi yang cukup tinggi namun relatif tidak stabil nilai efisiensinya. Artinya, tingginya nilai efisiensi bank syariah pada kuadran ini tidak secara persisten dicapai, namun terjadi fluktuasi (kenaikan dan penurunan) angka efisiensi.

Adapun kuadran 3 meliputi kelompok BUS yang memiliki tingkat efisiensi yang rendah, namun di sisi lain mempunyai nilai stabilitas tingkat efisiensi yang relatif tinggi. Kumpulan bank umum syariah pada kuadran 3 ini dapat dianggap sebagai bank syariah dengan nilai efisiensi yang relatif rendah dan fluktuatif nilai efisiensinya. Sisi baiknya adalah, kelompok bank syariah pada kuadran ini diharapkan mampu mencapai peningkatan tingkat efisiensi di masa mendatang.

Berikut di bawah ini adalah pembagian kelompok bank umum syariah (BUS) berdasarkan perhitungan tingkat efisiensi finansial yang dicapai pada sumbu y dan efisiensi sosialnya selama periode penelitian pada sumbu x.

Pada gambar di atas terlihat bahwa pada periode penelitian 2007-2015, terdapat 1 bank umum syariah yang berada pada kuadran 1, ada 3 bank syariah yang berada pada kuadran 2, dan 3 bank syariah yang masuk ke dalam kuadran 3. Sementara itu terdapat 4 bank umum syariah yang masuk kategori kuadran 4.